TasikMalaya, 16 November 2012,
Berat hatiku menulis puisi tentang Bunda, karena aku
pasti akan mulai menangis. Kisah tentang Bunda terlalu indah dan tak kan
bisa terwakili oleh kata-kata sepuitis apapun.
Kenangan tentang Bunda terlalu detail, melekat, mendalam
sehingga sulit untuk dituliskan apalagi sekedar melalui puisi. Dari
Bunda masih seorang wanita muda yang melahirkanku di usia 31 tahun
sebagai anak keduanya, hingga Bunda yang begitu khusyu, siap, tenang dan
tegar menghadapi cobaan berupa sakit dalam beberapa tahun belakangan,
Kenangan tentang Bunda adalah kenangan perayaan ulang
tahunku yang ke enam, saat itu beliau rela memasak makanannya sendiri
demi pestaku yang dirayakan pertama kalinya di SD. Aku ingat, beliau
memasakkan ku nasi kuning dengan Megono kesukaan ku,
Kenangan tentang Bunda adalah kenangan ketika aku tidak
sengaja memukul beliau, saat beliau berusaha melerai pertengkaran ku
dengan adik laki-laki ku, aku ingat waktu itu hanya karena masalah
sepele,
Kenangan tentang Bunda adalah ciuman yang aku terima
bertubi-tubi di pipi dan di kening saat aku diterima di UNNES lewat
SNMPTN Undangan jurusan Akuntansi murni, walaupun Bunda lebih
menginginkan aku diterima di Pendidikan dan menjadi guru seperti beliau,
Kenangan tentang Bunda adalah kenangan Rumah Sakit Umum
Daerah Batang, sebulan sekali Bunda biasa kontrol. Jika tekanan darahnya
sedang bagus aku slalu bergegas ke keluar membelikan berbagai jajanan
pasar kesenangan beliau. Dan beliau tersenyum gembira, moment yang
sangat membuat diriku sangat berguna sebagai seorang anak yang berbakti
kepada Bunda tercinta.
Kenangan tentang Bunda adalah kenangan suatu malam di
saat aku tidur menemaninya di rumah sakit, Biasanya Ibu tidur menghadap
langit-langit, tetapi pada malam itu beliau tidur mengahadap kanan
seraya menatap diriku yang sedang tidur di kasur bawah. “Bu, belum
tidur?”, “Nggak bisa tidur, pengen cepat pulang ke rumah”.
Kenangan tentang Bunda adalah di saat aku memandang tubuh Bunda
yang kejang keesokan harinya. Aku telepon Mas Dhika, Mbak Ludfi,
saudara dan kerabat, entah kenapa perasaan ikhlas dan tenang datang
menghampiriku sementara justru orang-orang yang aku telepon menangis
tersedu-sedu. Semua tidak percaya Bunda akan pergi begitu cepat,
kondisinya begitu buruk saat itu. Aku hanya diam memangku adik
terkecilku yang masih SD.
Kenangan tentang Bunda adalah ketika dokter Lafrand
keluar dari ICU dan memberitahukan bahwa kondisi Bunda baik-baik saja,
aku yang waktu itu bersiap menghadapi Ujian Nasional tingkat SMA,
lansung masuk dan menangis tersedu-sedu disamping Bunda, tak lama
kemudian Bunda berkata “kenapa kalian pada nangis?, lihat tuh Afa(adik
kecilku) bingung”. Akun pun makin menjadi-jadi dalam tangisanku,
Melihat wajah Bunda yang tersenyum saat aku akan pergi ke
Semarang untuk studi di UNNES, meskipun di dalam dada ini bergejolak
rasanya dan Alhamdulillah ada “bendungan besar” yang mampu menahan
jatuhnya air mataku, mencium wajahnya. Kenangan tentang Bunda adalah
kedatangan Bunda di mimpi-mimpiku di saat aku merindukannya di Semarang
ini….
Maafkan aku jika hanya sedikit waktu luang yang kuberikan
padamu sementara dirimu mencurahkan seluruh waktumu dari aku lahir
hingga saat ini. Maafkan aku yang terkadang kurang sabar menghadapimu
sementara hatimu seluas samudra dan slalu memahamiku. Dan benar aku tak
bisa berhenti menulis dan menangis…jika tentang Ibuku. Maka seperti
biasanya aku akan berdoa untuk menghentikan tangisanku..
Air mataku pun berhenti…
Karena aku yakin Bunda slalu berada di bawah lindungan-Nya. Amin

Tidak ada komentar:
Posting Komentar