Kamis, 09 Mei 2013

Tentang Bunda ku :-)

TasikMalaya, 16 November 2012,


Berat hatiku menulis puisi tentang Bunda, karena aku pasti akan mulai menangis. Kisah tentang Bunda terlalu indah dan tak kan bisa terwakili oleh kata-kata sepuitis apapun.



Kenangan tentang Bunda terlalu detail, melekat, mendalam sehingga sulit untuk dituliskan apalagi sekedar melalui puisi. Dari Bunda masih seorang wanita muda yang melahirkanku di usia 31 tahun sebagai anak keduanya, hingga Bunda yang begitu khusyu, siap, tenang dan tegar menghadapi cobaan berupa sakit dalam beberapa tahun belakangan,


Kenangan tentang Bunda adalah kenangan perayaan ulang tahunku yang ke enam, saat itu beliau rela memasak makanannya sendiri demi pestaku yang dirayakan pertama kalinya di SD. Aku ingat, beliau memasakkan ku nasi kuning dengan Megono kesukaan ku,


Kenangan tentang Bunda adalah kenangan ketika aku tidak sengaja memukul beliau, saat beliau berusaha melerai pertengkaran ku dengan adik laki-laki ku, aku ingat waktu itu hanya karena masalah sepele,


Kenangan tentang Bunda adalah ciuman yang aku terima bertubi-tubi di pipi dan di kening saat aku diterima di UNNES lewat SNMPTN Undangan jurusan Akuntansi murni, walaupun Bunda lebih menginginkan aku diterima di Pendidikan dan menjadi guru seperti beliau,


Kenangan tentang Bunda adalah kenangan Rumah Sakit Umum Daerah Batang, sebulan sekali Bunda biasa kontrol. Jika tekanan darahnya sedang bagus aku slalu bergegas ke keluar membelikan berbagai jajanan pasar kesenangan beliau. Dan beliau tersenyum gembira, moment yang sangat membuat diriku sangat berguna sebagai seorang anak yang berbakti kepada Bunda tercinta.


Kenangan tentang Bunda adalah kenangan suatu malam di saat aku tidur menemaninya di rumah sakit, Biasanya Ibu tidur menghadap langit-langit, tetapi pada malam itu beliau tidur mengahadap kanan seraya menatap diriku yang sedang tidur di kasur bawah. “Bu, belum tidur?”, “Nggak bisa tidur, pengen cepat pulang ke rumah”.


Kenangan tentang Bunda adalah di saat aku memandang tubuh Bunda yang kejang keesokan harinya. Aku telepon Mas Dhika, Mbak Ludfi, saudara dan kerabat, entah kenapa perasaan ikhlas dan tenang datang menghampiriku sementara justru orang-orang yang aku telepon menangis tersedu-sedu. Semua tidak percaya Bunda akan pergi begitu cepat, kondisinya begitu buruk saat itu. Aku hanya diam memangku adik terkecilku yang masih SD.


Kenangan tentang Bunda adalah ketika dokter Lafrand keluar dari ICU dan memberitahukan bahwa kondisi Bunda baik-baik saja, aku yang waktu itu bersiap menghadapi Ujian Nasional tingkat SMA, lansung masuk dan menangis tersedu-sedu disamping Bunda, tak lama kemudian Bunda berkata “kenapa kalian pada nangis?, lihat tuh Afa(adik kecilku) bingung”. Akun pun makin menjadi-jadi dalam tangisanku,


Melihat wajah Bunda yang tersenyum saat aku akan pergi ke Semarang untuk studi di UNNES, meskipun di dalam dada ini bergejolak rasanya dan Alhamdulillah ada “bendungan besar” yang mampu menahan jatuhnya air mataku, mencium wajahnya. Kenangan tentang Bunda adalah kedatangan Bunda di mimpi-mimpiku di saat aku merindukannya di Semarang ini….


Maafkan aku jika hanya sedikit waktu luang yang kuberikan padamu sementara dirimu mencurahkan seluruh waktumu dari aku lahir hingga saat ini. Maafkan aku yang terkadang kurang sabar menghadapimu sementara hatimu seluas samudra dan slalu memahamiku. Dan benar aku tak bisa berhenti menulis dan menangis…jika tentang Ibuku. Maka seperti biasanya aku akan berdoa untuk menghentikan tangisanku..


Air mataku pun berhenti…


Karena aku yakin Bunda slalu berada di bawah lindungan-Nya. Amin

Tidak ada komentar:

Posting Komentar