Aku pun menggeliat membuka mataku. Lalu aku bangun dan langsung mengambil hape ku, menatap layarnya. Ada sms, aku tersenyum lalu membukanya, namun tiba-tiba senyumku pudar. Ternyata bukan sms dari seseorang yang aku harapkan, hanya sms kata-kata bijak dari seorang kawan.
“kenapa Nang?” tanya Bunda
“tidak apa-apa bu” kataku
“ya dah, subuhan sek ya” Bunda berkata sambil keluar dari kamar
Kembali aku menatap layar hapeku, aku sadar, tidak akan pernah lagi mendapat sms ataupun Miscal darinya lagi. Ya, aku menunggu sms dari Dhini, orang yang sangat aku sayangi setelah Bunda dan Saudara-saudaraku. Dhini sudah pergi, dikarenakan sakit. Tapi entah mengapa, setiap pagi, aku selalu reflek ngecek hapeku ketika pagi-pagi hari. Hal ini dikarenakan kebiasaan Dhini yang selalu menelpon atau sekedar sms di setiap pagi hari, seperti sudah menjadi kebiasaannya. Duu aku menganggap biasa kebiasaannya itu, Tapi sekarang? Aku sangat merindukan sms-sms darinya. Terkadang aku menagis ketika mengetahui tidak ada apa-apa darinay di layar hapeku.
Aku beranjak turun dari tempat tidur, membuka pintu kamar. Dan aku mendapati pintu di depan kamar yang kutempati tadi. Kembali aku terdiam, ketika membaca papan hias yang menempel di pintu itu. Pintu dengan papan bertuliskan “Dhinie Sweety” yang berhiaskan pernak-pernik dari kartu remi. Ya, itulah kamar dari Dhini, atau tepatnya bekas kamarnya. Aku sekarang berada dirumahnya, rumah dimana Dhini dilahirkan di dunia ini dan dimana Dhini meninggalkan dunia ini pula. Aku berada dirumahnya atas undangan kedua orang tuanya, karena hari rabu adalah tepat 40 hari Dhini meninggalkan kami. Tanpa diundang pun, dengan sukarela aku akan datang. Aku sampai disini kemarin (selasa) siang bersama Bunda, Anas (adik), Bang Dhika dan istrinya.
Aku beranjak pergi menuju ke belakang, sekedar untuk mengambil air wudhu. Baru pukul 04.52, sebelumnya aku memang kembali tidur setelah sahur. Lalu aku kembali kekamar untuk sholat subuh. Entah kenapa, dirumah ini rasanya masih ada Dhini. Sepintas saat sholat aku seperti mendengar suaranya. Bukan hanya dirumah ini saja, saat keseharianku di Semarang juga selalu begitu. Lalu aku berdoa, kembali aku menangis, betapa rindunya aku pada sosok Dhini.
Ingatanku terulang, saat tanggal 7 Juni di waktu hampir menjelang subuh. Aku melihatnya sedang meregang nyawa, dia seperti amat kesakitan. Sempat kulihat air matanya walau saat itu Dhini terpejam, hanya mulutnya yang bergerak-gerak secara perlahan seperti berdoa. Entah kenapa, aku hanya berdiri mematung disaat keluarga yang lain menangis melihat kondisi Dhini saat itu.
“Mas, Mbak’e Mas” kata Afa adik perempuanku waktu itu
Aku tetap berdiri, sambil menekan kuat bahu adikku ini. Perlahan aku mendengar, adikku ini mulai menangis tersedu-sedu. Tapi mataku tetap diam, yang ada dipikiranku waktu itu, apakah ini saatnya Ya Allah. Beberpa saat kemudian, pukul 03.56, Dhini pun menghembuskan nafas terakhirnya.
“ya dah, subuhan sek ya” Bunda berkata sambil keluar dari kamar
Kembali aku menatap layar hapeku, aku sadar, tidak akan pernah lagi mendapat sms ataupun Miscal darinya lagi. Ya, aku menunggu sms dari Dhini, orang yang sangat aku sayangi setelah Bunda dan Saudara-saudaraku. Dhini sudah pergi, dikarenakan sakit. Tapi entah mengapa, setiap pagi, aku selalu reflek ngecek hapeku ketika pagi-pagi hari. Hal ini dikarenakan kebiasaan Dhini yang selalu menelpon atau sekedar sms di setiap pagi hari, seperti sudah menjadi kebiasaannya. Duu aku menganggap biasa kebiasaannya itu, Tapi sekarang? Aku sangat merindukan sms-sms darinya. Terkadang aku menagis ketika mengetahui tidak ada apa-apa darinay di layar hapeku.
Aku beranjak turun dari tempat tidur, membuka pintu kamar. Dan aku mendapati pintu di depan kamar yang kutempati tadi. Kembali aku terdiam, ketika membaca papan hias yang menempel di pintu itu. Pintu dengan papan bertuliskan “Dhinie Sweety” yang berhiaskan pernak-pernik dari kartu remi. Ya, itulah kamar dari Dhini, atau tepatnya bekas kamarnya. Aku sekarang berada dirumahnya, rumah dimana Dhini dilahirkan di dunia ini dan dimana Dhini meninggalkan dunia ini pula. Aku berada dirumahnya atas undangan kedua orang tuanya, karena hari rabu adalah tepat 40 hari Dhini meninggalkan kami. Tanpa diundang pun, dengan sukarela aku akan datang. Aku sampai disini kemarin (selasa) siang bersama Bunda, Anas (adik), Bang Dhika dan istrinya.
Aku beranjak pergi menuju ke belakang, sekedar untuk mengambil air wudhu. Baru pukul 04.52, sebelumnya aku memang kembali tidur setelah sahur. Lalu aku kembali kekamar untuk sholat subuh. Entah kenapa, dirumah ini rasanya masih ada Dhini. Sepintas saat sholat aku seperti mendengar suaranya. Bukan hanya dirumah ini saja, saat keseharianku di Semarang juga selalu begitu. Lalu aku berdoa, kembali aku menangis, betapa rindunya aku pada sosok Dhini.
Ingatanku terulang, saat tanggal 7 Juni di waktu hampir menjelang subuh. Aku melihatnya sedang meregang nyawa, dia seperti amat kesakitan. Sempat kulihat air matanya walau saat itu Dhini terpejam, hanya mulutnya yang bergerak-gerak secara perlahan seperti berdoa. Entah kenapa, aku hanya berdiri mematung disaat keluarga yang lain menangis melihat kondisi Dhini saat itu.
“Mas, Mbak’e Mas” kata Afa adik perempuanku waktu itu
Aku tetap berdiri, sambil menekan kuat bahu adikku ini. Perlahan aku mendengar, adikku ini mulai menangis tersedu-sedu. Tapi mataku tetap diam, yang ada dipikiranku waktu itu, apakah ini saatnya Ya Allah. Beberpa saat kemudian, pukul 03.56, Dhini pun menghembuskan nafas terakhirnya.
“Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un “
Itulah yang kudengar dari mulut orang-orang diruangan ini, perlahan air mataku pun keluar, hanya beberapa tetes saja. Aku menangis tanpa suara, masih dengan berdiri di tempat yang sama. Afa berlari memeluk Bunda yang juga sudah basah air matanya. Kurasakan tangan kekar merangkul pundakku, ku menoleh ternyata tangan milik Bang Dhika. Bang Dhika kulihat juga menangis, dan dia berkata “Yang sabar ya Adikku”. Aku pun sontak memeluk Bang Dhika, air mataku akhirnya mengalir dengan derasnya dalam pelukan Bang Dhika. Saat itu akau merasakan kehilangan yang amat sangat, seperti saat aku kehilangan almarhumah nenek.
Tok Tok Tok
Aku menoleh ke arah pintu, ternyata itu adalah Bunda
“Nang, wes rampung sholate?” Bunda masuk ke kamar
“sudah bun” sahutku tersenyum. Ya, aku memang merasa kehilangan yang amat sangat ats kepergian Dhini. Tetapi, aku tetap bersyukur, bersyukur kepada Allah SWT karena masih bisa melihat senyum bunda, merasakan tangannya yang renta saat mengelusku dan mendengar suaranya saat menasihatiku :’-)
Itulah yang kudengar dari mulut orang-orang diruangan ini, perlahan air mataku pun keluar, hanya beberapa tetes saja. Aku menangis tanpa suara, masih dengan berdiri di tempat yang sama. Afa berlari memeluk Bunda yang juga sudah basah air matanya. Kurasakan tangan kekar merangkul pundakku, ku menoleh ternyata tangan milik Bang Dhika. Bang Dhika kulihat juga menangis, dan dia berkata “Yang sabar ya Adikku”. Aku pun sontak memeluk Bang Dhika, air mataku akhirnya mengalir dengan derasnya dalam pelukan Bang Dhika. Saat itu akau merasakan kehilangan yang amat sangat, seperti saat aku kehilangan almarhumah nenek.
Tok Tok Tok
Aku menoleh ke arah pintu, ternyata itu adalah Bunda
“Nang, wes rampung sholate?” Bunda masuk ke kamar
“sudah bun” sahutku tersenyum. Ya, aku memang merasa kehilangan yang amat sangat ats kepergian Dhini. Tetapi, aku tetap bersyukur, bersyukur kepada Allah SWT karena masih bisa melihat senyum bunda, merasakan tangannya yang renta saat mengelusku dan mendengar suaranya saat menasihatiku :’-)

Menyentuh. i miss her too. Semangat kawanku. kamu tidak sendirian.
BalasHapus(nangiis lo q med) jd inget klo dini sms aku, jd inget klo dini ngchat q, nyapa, ngomen fotoku.
I miss her so much T.T
semangat nam :') masih ada kawan2mu
BalasHapus