Minggu, 11 Agustus 2013

Lebaran ku, Cerita ku :-)


Sebelumnya saya ucapkan selamat hari raya Idul Fitri, Minal Aidzi wal Faidzin, Mohon Maaf lahir dan Batin yak, Maafin AnaM yak teman2 #Pose unyuk2 polos

Lebaran, memang waktu yang tepat untuk berkunjung kerumah kerabat, teman dan keluarga. Ga mesti rumah mereka sendiri sih… bisa aja rumah kontrakan, rumah dinas, rumah mertua, rumah kos dan sejenisnya. Tapi ingat, bukan rumah bordil (hais… keceplosan).



Permasalahan klasik setiap kali libur lebaran adalah kelangkaan pedagang makanan. Mereka yang biasanya rame jualan di pinggir jalan, ada juga yang pake gerobak atau dipikul (tukang bakso atau es kalau di kampung saya) dan metode jualannya roadshow melintasi jalan komplek perumahan dan perkampungan, tiba-tiba jumlahnya berkurang drastis.

Ya iyalah… Lebaran geto loh. Lu pikir pedagang ga butuh libur dan pulang ke kampung halamannya nun jauh di pelosok pulau Jawa atau daerah lainnya.

Kampung saya aja mendadak sepi. Biasanya mendadak dangdut… Isinya emang pedagang semua, mulai dari dagang es krim model tradisional dan berbagai macam es lainnya, jualan jamu gendong, pecel ayam, bakso dan sebagainya.

Lalu para pedagang itu mudik, kota saya mendadak sepi pedagang makanan tapi malah rame dengan anak kuliahan yang pulang liburan. Beuh… jadi teringat yang juga masih berstatus kuliah, pulang liburan kerjaan cuma ‘mantu’ (mangan turu) dan kelayapan, hehehe…

Teman dekat saya punya sodara yang merayakan Idul Fitri sebagai muslim, yang daerah rumahnya lumayan jauh untuk ukuran kota kecil seperti Cirebon.

Lima kilometer itu jauh kalau di Cirebon, apalagi jalan kaki sambil jongkok atau jalan mundur. Untungnya kami agak sedikit cerdas dan sudah dewasa (bukan tua… tua itu pasti, dewasa itu pilihan) untuk mengendarai kendaraan bermotor meski cuma sepeda motor (soalnya cuma ini yang ada).

Tapi… jenis sepeda motor yang dipakai bisa mencerminkan usia dan tingkat kedewasaan seseorang. Sekali lagi, kami cukup dewasa, bukan tua (ga mau ngaku aja sebenarnya). Di Cirebon, anak muda secara umum lebih memilih motor matic warna cerah dan kinclong (langganan cuci motor).

Fyuh… yang udah dewasa dan cukup umur biasanya ga peduli modelnya gimana, asal bisa jalan, pake aja. Jadi keliatan tua… Ga lah, kami cuma udah cukup umur dan merasa dewasa aja, meski prakteknya beda tipis sama kelakuan para ponakan kami (ponakan saya malah ada yang udah SMA, nah lo…).

Ceritanya, saya ikut teman saya dan adik-adiknya untuk berkunjung kerumah keluarganya itu.
Ga usah dibahas detail jaraknya, lewat mana… tempat ini ga ada di Koprol.com dan jelas ga bisa pamer check-in, kecuali mau buat sendiri di Foursquare (Koprol rules: not public place = reject). Pergi dalam kondisi lumayan lapar, nyampe sana udah resmi benar-benar lapar.

Dan ternyata…
Hal terburuk yang bisa dialami tamu saat berkunjung adalah ketika yang punya rumah ga ada dirumah. Mendadak terserang penyakit 5L: lemah, letih, lesu, lola lolo (bengong ga jelas). Udah jauh, ga ada. Niat makan gratis pun gagal total.


Cengak cenguk. Plola plolo. Ada yang kipas-kipas pake koran bekas, ada yang sebal sebul (baca: merokok) sambil coba update status dan cek email dengan koneksi internet yang konek segan diskonek pun tak mau, termasuk saya yang akhirnya sadar kalau ada sesuatu yang lebih buruk sedang terjadi: lapar yang ga pake kompromi.

Akhirnya kami memutuskan untuk pulang. Ditengah perjalanan, dengan liciknya saya dan teman saya memisahkan diri dari adik-adiknya yang pulang dalam kondisi lapar berat, melancarkan jurus cadangan untuk berkunjung kerumah sodara saya lebih cepat.

Bwhahaha… kalau lapar, logika dan belas kasihan kadang emang ga jalan. Dalam hati saya cuma bisa merasa kalau saat itu kami adalah orang jenius yang punya ide sangat cemerlang, secemerlang sinar matahari 
yang lagi lucu-lucunya saat itu.

Jarak dari rumah sodara teman saya kerumah sodara saya ibarat langit dan bumi. Bedanya, langit bisa terlihat dari bumi tapi ga bisa dijangkau dengan sepeda motor, rumah sodara saya jauh ga keliatan dan bisa dijangkau dengan sepeda motor.

Satu lagi perbedaannya: langit ga punya parkiran khusus sepeda motor dan kalau mau lewat harap turun, lampu dan mesin dimatikan, dilarang membunyikan klakson. Tamu harap lapor petugas di pos keamanan dan dilarang membawa senjata tajam/api.

Naik angkot bisa… pergi pagi, malam nyampenya. Bukan apa-apa… lebaran ga ada angkot angkut penumpang kalo siang, jadi mobil pribadi motif angkot buat angkut keluarganya masing-masing. Nunggu angkot lewat bisa berjam-jam. Rada sore baru beroperasi seperti biasanya, dan ironisnya malah sepi penumpang.

Nyampe rumah sodara saya, ga pake babibu pidato laporan kunjungan, cukup sekedar salaman, langsung buka-buka stoples dan bertingkah normal. Normalnya orang kelaparan maksudnya… Sampai akhirnya tiba saat yang sangat dinanti, pertanyaan “mau makan?”. Rasanya seperti melihat kepompong yang berubah menjadi kupu-kupu, hehee… Hap! Kupu ditangkap.

Soal minuman, ga aneh-aneh… cukup ‘yang biasanya’, minuman khas lebaran di kampung, Coca Cola dan Sprite serta Fanta, hehehe… Masa’ lebaran minum air putih… ya nda keren masbro dan mba’sist.

Setelah kenyang, ngobrol hal-hal ga jelas sebentar, kami lalu pulang. Pulang dalam kondisi ‘full tank’ alias udah kenyang. Kalau kenyang, tidur pun jadi enak… jadi agenda selanjutnya adalah tidur siang sambil merencanakan akan berkunjung kemana nanti malam, tapatnya (minta) makan dimana.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar