Entah kenapa aku sendiri juga tidak tahu menahu. Dari judul tulisan ini
sudah sangat jelas bahwa kondisi diriku sedang tidak jelas. Entah karena
hal-hal yang terjadi kemarin2 sehingga cukup mengganggu pikiranku,
ataukah karena hal yang baru saja terjadi akhir-akhir ini. Yang pasti aq
sedang mengalami masa-masa kritis dari semua permasalahan dalam hidupku
yang membuat aq harus berpikir ulang tentang langkahku ke depan. Tapi
aku sendiri heran kenapa ya hal-hal kecil yang menjadi kerikil dalam
perjalananku ini terasa semakin besar? Apakah karena kurang ada rasa
syukur dalam hati?
Berawal dari impian besar yang aq
patrikan dalam hatiku, kemudian disusul dengan langkah kecil yang bisa
aku lakukan. Sedikit demi sedikit telah menyulut api semangat dalam
gerak langkahku. Tapi secara perlahan itu pula, api semangat itu mulai
menyurut bersamaan dengan kegagalan-kegagalan pahit yang aku terima.
Awalnya aku masih tetap optimis meskipun kegagalan muncul sesekali, aku
anggap ini adalah awal permulaan. Tapi tanpa kusadari, kegagalan itu
telah menjadi benalu dalam optimisme yang aku tanamkan dalam benakku.
Seorang motivator sekalipun tidak akan mampu menyelesaikan masalah yang
aku hadapi ini dengan kalimat-kalimatnya yang membara. Karena ini bukan
lagi bermain dengan logika rasional, tapi lebih kepada dilema hati yang
menghujam semakin dalam. Semangat itu mulai pudar, terkikis sedikit demi
sedikit. Aku hanya butuh cahaya kecil yang dapat aku jadikan sebagai
penyulut semangatku kembali. Aku tidak butuh orang yang berteori untuk
kehidupannya, atau sekedar mengancamku atas kelemahan imanku jika aku
tidak mengikutinya. Ancaman-ancaman seperti itu justru akan semakin
membuatku berontak.
Aku telah
kehilangan, ya aku telah kehilangan mereka yang dulu memberikan impian
besar melalui pemikirannya yang katanya luar biasa. Tapi sekarang telah
musnah dimakan kemunafikan, dan keegoisan dalam cara berpikir mereka.
Aku memang hanya seorang pembelajar pengalaman, hanya seorang pemimpi
besar, tapi aku telah kehilangan tali kekang yang kujadikan pacuan.
Sehingga hal ini membuatku sulit untuk mempercayai siapapun. Sungguh
siapapun telah menjadi daftar blacklistku ketika mereka berusaha
membuatku bercerita tetapi mereka tidak mau terbuka padaku.
Aku yang dulu sangat terbuka, dan mau menerima kelemahan orang lain.
Serta sering dijadikan sebagai sandaran kawan, sekarang menjadi seorang
sensitif yang mudah illfeel dengan sikap orang. Sangat menyedihkan
kurasa. Mulai dari teman kosan yang hidup dalam dunianya
sendiri. Sampai pembina yang penuh dengan tuntutan tanpa sedikitpun
solusi yang ditawarkan saat binaannya mengalami kendala. Ditambah lagi
anak-anak kosan yang setiap hari membuat diriku kurang bisa
berkonsentrasi. Masih ada lagi tuntutan luar yang memandang semua
langkahku ini telah keluar dari batas-batas aturan kelompoknya. Memang
apa yang telah kulakukan? Dimana kalian saat aku membutuhkan sedikit
perhatian untuk sekedar melepas rasa lelah, atau kecewa atas sistem yang
bertentangan dengan pemikiranku? Yang mereka tahu adalah aku harus
patuh dengan segala aturan, tanpa mempertimbangkan apakah aku setuju
atau tidak.
Tapi aku sadar dari semua hal yang
telah aku ungkapkan di atas, akan menjadi sia-sia dan tak berguna jika
hanya ku sampaikan pada Manusia. Aku punya Allah yang pasti selalu
mendengarkanku, baik saat senang maupun saat galau seperti ini. Dialah
Dzat yang selama ini lebih memahami keinginan manusia, Dialah Dzat yang
lebih berhak menuntut diriku atas kewajiban yang seharusnya aku lakukan.
Karena Dialah yang telah memberiku kehidupan. Bukan mereka yang merasa
diri paling sempurna.
Dan tulisan
ini hanya menjadi sarana ku untuk meluapkan segala kekesalan dan
kekecewaanku, karena blog ini hanya benda mati yang setia menerima
segala bentuk ungkapan dalam tulisanku. Paling tidak dia tidak pernah
memberikan tuntutan bermacam kepadaku. Hingga seharian ini aku dipenuhi
dengan muka kesal dan malas hanya untuk sekedar menyapa orang lain. Aku
berharap hari ini adalah puncak kritis kondisiku yang sedang kacau.
Kemudian esok aku ingin bertemu dengan anti klimaks kekesalan dan
kekecewaan yang aku hadapi. Aku ingin membuang semuanya, dan kembali
tersenyum penuh dengan semangat baru, serta impian baru. Biarlah mereka
yang menjadi objek kekecewaanku ini tak menyadari hingga Allah yang
menyadarkan mereka. Amiiinnnnn (Sembuh Please, Keep Smile Anaaaaammmm)
Bismillah


Tidak ada komentar:
Posting Komentar